Sport Sience Milkhatil Arofah
Dalam
beberapa tahun terakhirnya sport science semakin terbiasa menjadi sebuah
istilah keren dalam dunia olahraga. Sayangnya, pengetahuan komprehensif soal
itu, dan juga realisasinya, masih jauh dari semestinya.
"Kita akan menerapkan sport science di
tim."
![]()
"Kita akan maju dan berprestasi
dengan sport science."
"Yuk,
kita terapkan pola makan sehat pada para pemain. Mulai sekarang, tidak ada lagi
gorengan, sambal, kerupuk, makanan bersantan, makanan berminyak, dan
sebagainya. Semua diganti dengan nasi merah, pasta, dan makanan yang dibakar
atau dikukus. Sediakan salad dan buah-buahan yang cukup."
*
Betapa seringnya kita mendengar
ungkapan-ungkapan di atas. Namun, kemudian ini yang terjadi:
"Susah, Bang, diterapkan di sini. Beda
kebiasaan. Jadi ya diterima saja."
Dalam satu kesempatan lainnya, pernah saya
diajak oleh seorang kawan yang dengan bangga ingin menunjukkan fasilitas sport science-nya.
Setelah menempuh perjalanan dua jam, kami tiba di sebuah tanah lapang yang
dilengkapi dua buah gawang besar, dan satu gawang kecil di samping lapangan.
Dengan bangga bapak itu mengatakan: "Inilah
fasilitas sport
science kami!"
**
Di satu sisi, memang benar ada keinginan untuk
menerapkan sport
science.Tapi, begitu akan dilaksanakan, keinginan itu batal hanya
karena alasan yang terlampau sering diungkapkan: karena tak biasa. Apakah sport science hanya
jadi istilah keren untuk dijual, atau benar-benar digunakan karena adanya
kepahaman penuh akan istilah ini?
Bila diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia, sport science secara
harafiah berarti "pengetahuan olahraga". Tapi, jujur, istilah ini
kurang sreg untuk digunakan. Lebih enak saya pakai sport science saja.
Let's
stick to that, shall we?
Secara umum sport science bisa dibagi ke dalam
beberapa keilmuan, yaitu bagian kepelatihan, fisik, kedokteran, fisioterapi dan
rehabilitasi, relaksasi, gizi, psikologis, dan bagian peneliti (researcher). Tujuannya
adalah secara bersama mewujudkan sebuah program latihan, atau sebuah materi,
untuk membentuk skuat yang fit, bugar, dan bebas cedera dalam menghadapi
pertandingan.
Lalu apa saja tugas masing-masing bagian?
Bagian
Fisik
Tanpa fisik yang baik, jangan harapkan seorang
atlet mampu melakoni sebuah pertandingan secara penuh. Dalam konteks sepakbola,
mesti disadari bahwa olahraga ini bukan hanya masalah berlari di lapangan atau
mencetak gol. Memang, dua isu itu jadi faktor utama untuk mendapatkan
kemenangan. Tapi, tanpa kondisi fisik dan stamina yang prima, bagaimana
mencapainya?
Dalam sebuah klub, sport science bisa diwujudkan
melalui latihan fisik untuk semua pemain. Namun, porsinya diberikan di luar
porsi latihan dari pelatih kepala. Setiap pemain akan diberikan pola latihan
tersendiri, sesuai dengan posisinya di lapangan. Latihan-latihan ini diberikan
oleh pelatih fisik di gym sebelum latihan resmi dilakukan.
Sementara itu, pelatih kepala hanya
bertanggung-jawab untuk mengatur pola latihan murni mengenai sepakbola.
Misalnya saja: pola bertahan, pola menyerang, atau latihan bola mati. Di atas
lapangan, pelatih kepala sendiri hanya menerima pemain-pemain yang fit saja
untuk berlatih di lapangan.
Hal ini juga sempat diamini oleh salah satu
pelatih kelas dunia, Arsene Wenger. Pelatih asal Prancis ini pernah mengatakan,
bila ada pemainnya yang merasa sedikit sakit, atau nyeri di bagian otot,
tulang, ligamen, persendian, atau kurang fit, maka dia tak akan mengambil
risiko memainkan mereka saat berlatih. Ia lebih senang memilih pemain yang fit
di lapangan.
Nah, cedera dan kurang fit inilah yang dilatih secara
terpisah di luar lapangan oleh seorang fisioterapis atau pelatih fisik.
Bagian
Kedokteran
Tim dokter memiliki peran penting dalam sebuah
tim. Pada umumnya, dokter dalam sport
science juga harus memiliki spesialisasi di bidang olahraga.
Dalam kesehariannya, dokter tim bertugas mengawasi kesehatan semua anggota tim.
Dia juga yang akan memberikan obat yang sesuai dengan kebutuhan pemain.
Keluhan-keluhan seperti sakit di dada, pusing,
mual, ditangani secara langsung oleh dokter tim. Keluhan seperti ini harus
didengarkan secara serius dan dicari penanganannya.
Dokter kepala akan bertanggung jawab pada tim
medis atau atau tim sport science di dalam struktur klub. Dia yang melakukan
tes-tes kesehatan seperti tes jantung, paru-paru, dan organ tubuh yang lain.
Dokter kepala juga yang memberikan rujukan jika ada tindakan kesehatan yang
harus dilakukan di luar tim. Pun saat ada pemain yang harus dibawa ke rumah
sakit. Semua atas rujukan dokter kepala.
Satu hal yang penting untuk diingat, seandainya
tindakan operasi diperlukan, maka sang pemain bola pun harus ditemani oleh
dokter tim.
Bagian
Fisioterapi
Fisioterapi memiliki tugas penting dalam
membantu mengembalikan fungsi tubuh yang cedera ke fungsi normal. Salah satu
yang perlu ditekankan adalah fisioterapi bukanlah tukang pijat. [Bagian ini
akan saya bahas secara detail di artikel-artikel ke depan.]
Bagian
Rileksasi
Ini bagian yang sering diasosiasikan dengan
tugas dan fungsi fisioterapi. Masseur di dalam klub sepakbola, atau di bagian sport science,
memerlukan diploma atau pendidikan khusus. Tidak bisa pijat dilakukan oleh
sembarangan secara tiba-tiba. Bahwa banyak yang pintar memijat tentu benar.
Namun apakah ia mengerti anatomi tubuh?
Pengetahuan ini sangat dibutuhkan karena pada
saat pegal-pegal tubuh harus di-massage ke
arah tertentu dan dengan teknik tertentu pula. Pengetahuan lainnya ialah bila
ada cedera, maka masseur juga
bisa merujuk seorang pemain ke dokter atau fisioterapi.
Bagian
Gizi
Makanan apa yang harus dikonsumsi? Minuman apa
yang baik untuk pemulihan kondisi? Diet apa yang harus diikuti?
Pertanyaan-pertanyaan ini jadi penting bagi seorang atlet. Karena itu, kadar
protein, mineral, vitamin, air akan senantiasa diukur oleh bagian gizi.
Tujuan
dari bagian nutrisi ini, selain membantu mempercepat pemulihan, juga sebagai
asupan bahan bakar tubuh pada saat berlatih dan melakukan pertandingan. Maka
jenis makanan yang disajikan untuk sehari-hari saat latihan dan untuk
pertandingan tentu akan dibedakan.
Ini pun akan dibahas lebih lanjut di
artikel-artikel berikutnya.
Bagian
Psikologis
Sering dilupakan dalam sebuah tim sepakbola atau
olahraga, departemen ini sangatlah penting. Ini karena satu tim pastilah tak
bisa lepas dari masalah psikologis. Contohnya: hubungan antarpemain, hubungan
antara pemain dengan ofisial, pemain yang selalu dibangkucadangkan, striker
yang tiba-tiba tak bisa mencetak gol lagi, kiper yang kebobolan terus,
kejenuhan saat berlatih, masalah gaji, dan lain-lain.
Penyelesaian masalah ini memerlukan seorang
psikolog yang bisa bekerja menangani individu maupun grup. Mental bertanding
juga sangat amat bisa distimulasi dari sebuah sesi psikologis.
**
Sejauh yang saya ketahui, sport science belum
terlalu dikembangkan di klub-klub bola Indonesia. Kalaupun iya, kondisinya
berbeda-beda. Ada tim yang hanya memiliki dokter, namun tidak menggunakan jasa
fisioterapi. Ada yang kebalikannya: punya fisioterapi tapi tidak punya dokter
tim. Bahkan, ada yang malah memiliki mantri! Apalagi bagian ahli gizi atau
psikologis. Banyak sekali tim yang melupakan kedua departemen tersebut.
Ini jadi bukti bahwa sport science di Indonesia
belum diterapkan secara penuh, atau bahkan tidak sama sekali. Sport Science hanya
menjadi sebuah istilah yang cool, gaul, atau trendi. Penerapannya sering hanya
menjadi sebuah mimpi saja.
Di tahun 1960 ada seorang tokoh bernama Martin
Luther King, yang terkenal dengan pidatonya berjudul "I have a
dream". Di Indonesia, sport
science ya masih dalam taraf "I have a dream" tadi.
Mimpi akan sebuah sarana dengan departemen-departemen di atas yang dapat
membawa sepakbola Indonesia ke level yang lebih tinggi lagi.
Komentar
Posting Komentar